"Aku janji! Sabtu depan aku akan melamar kamu! Di Gereja !"
Candra menyatakan keseriusannya kepada Sita. SIta pun terlihat bahagia dan tak sabar menantikan hari itu. Berbagai persiapan pun dilakukan oleh keduanya. Kemudian, hari yang dinanti pun tiba, Sita datang ke Gereja terlebih dahulu bersama keluarganya. Ia nampak menawan menggunakan gaun putih dan rambutnya yang diurai.
Pada saat itu juga, sebelum acara pelamaran Sita, ada seorang wanita cantik memakai gaun putih dan rambut diikat. Ia adalah Intan.
Intan adalah sahabat kecil Sita. Meskipun hanya sahabat, mereka memiliki kemiripan bila dilihat dari belakang. Kadang orang salah menyebut Intan saat memanggil Sita. Begitu pula sebaliknya.
Hari ini, di Gereja, bersama keluarganya, ia menunggu calon suaminya, karena mereka berniat menikah disana. Di waktu luangnya itu pun ia memainkan binatang peliharaannya, kucing persia yang lucu. Ia selalu membawanya setiap hari. Begitu pula dengan hari ini.
"Sit, aku mau nyiapin acaraku dulu yah, aku titip kucing ini ke kamu."
"Oh gapapa Ntan, aku juga suka kucing."
Intan pun menaruh keranjang yang berisi kucing di pangkuan Sita. Sita yang juga penyayang kucing, mengelus elus kucing persia itu.
Selepas kemudian, dari pintu belakang masuk anak laki - laki yang membawa sebuah surat, dimana pengirimnya menyuruh anak itu untuk memberikan surat kepada wanita yang akan diseriuskannya. Pengirim itu memberikan petunjuk bahwa wanita yang dituju adalah penyuka kucing.
Tanpa pikir panjang, anak laki - laki itu pun memberikan surat itu ke Sita. Dan anak itu berkata,
"Ini dari orang spesial Anda."
Sita lalu membaca surat yang isinya ternyata pengirim tidak bisa datang karena ia dilarang untuk menikah oleh keluarganya. Ia harus melanjutkan sekolah terlebih dahulu baru menikah. Sita pun menangis dan menunjukkan surat itu kepada keluarganya. Ayah Sita pun marah.
"Lelaki macam apa itu telah berani mengingkari janjinya!"
Ayahnya pun melanjutkan, "Sini hp kamu Sit!"
Sita tak berhenti menangis, sambil gemetaran ia memberikan hp ke ayahnya. Lalu ayah Sita pun menelpon Candra.
"Lelaki macam apa kamu!" Teriak ayahnya.
"Maaf pak, saya.."
Sita pun merebut hp dari ayahnya dan berteriak sekencang - kencangnya,
"Kamu jahat, Can!"
Seluruh orang di Gereja itu mendengarnya. Dari ujung telpon masih terdengar suara Candra.
"Aku jahat ? Tunggu aku.."
Tuut..Tuut.. Telepon pun dimatikan Sita. Ia pun lari keluar dari Gereja ditemani air matanya yang jatuh dengan deras.
(Siapakah pengirim surat sebenarnya ?)

0 Response to Kasus 4 : Kasih Surat Ini
Post a Comment